Jumat, 31 Desember 2010

Kisah Para Bonek Pertaruhkan Nyawa

Kisah Para Bonek Pertaruhkan Nyawa
Ilustrasi (Foto: Koran SI)

SURABAYA - Bondho Nekat, inilah akronim yang disandarkan bagi para suporter Persebaya Surabaya. Dari namanya saja sudah ada kata “nekat”, maka wajar saja jika apapun dilakukan agar bisa menyaksikan tim mereka bertanding. Bahkan nyawa siap dipertaruhkan.


Seperti dituturkan Reza Wilianto, bonek yang mengaku hanya memegang Rp100 ribu di kantong untuk pergi ke Bandung.

Siswa kelas 3 sebuah SMP swasta di Surabaya itu mengaku mengalami pengalaman tak terlupakan karena kereta api yang dinaiki rombongannya diserang sekumpulan massa di daerah Solo Jawa Tengah.

Petualangan Reza dimulai pada Kamis, 21 Januari lalu. Reza bersama kakaknya Erwin Wilianto (24) memutuskan ikut bergabung dengan bonek lainnya ke Bandung. Dari rumahnya di sekitar Wonokromo, Surabaya, Reza, Erwin, dan sekira sembilan orang Bonek di kampungnya berangkat menuju ke Stasiun Pasar Turi Surabaya sekira pukul 21.00 WIB.

Dasar bonek, untuk menuju stasiun pun rombongan Reza tidak mau keluar uang. Mereka lebih memilih untuk nggandhol (menumpang) mobil-mobil bak terbuka atau truk yang menuju ke arah Stasiun Pasar Turi. Bukannya tak punya uang, Reza sebenarnya dibekali orangtuanya uang Rp100 ribu.



Namun apa artinya uang sebesar itu dibandingkan dengan ongkos perjalanan ke Bandung dan akomodasinya. Apalagi sudah menjadi trade mark bagi bonek untuk selalu nggandhol beramai-ramai saat akan menuju stadion.

Sampai di Stasiun Pasar Turi, ternyata sudah ada ribuan bonek lain.
“Kami masuk begitu saja karena penjagaan tidak ketat. Apalagi sudah banyak bonek lainnya yang sudah menunggu di Stasiun Pasar Turi,” ungkap Reza yang ditemui di sekitar Stadion Gelora Sepuluh Nopember Tambaksari Surabaya, Selasa (26/01/2010).


Setelah sekian lama menunggu, pukul 03.30 WIB KA Pasundan mengangkut rombongan menuju Bandung. Para bonek ini tak dipungut biaya. Seingat Reza, jika tak salah hitung ada sekira 12 gerbong yang terangkai pada saat itu. Semuanya terisi penuh oleh bonek. Tak hanya dalam gerbong, tapi juga meluber di atap-atap gerbong.


“Penumpang umum lainnya sampai membatalkan berangkat karena ada rombongan bonek. Saat berangkat saya berada di atap kereta,” tuturnya.


Kebetulan kereta Pasundan yang dinaiki Reza ini melewati jalur selatan seperti Madiun, Solo Yogyakarta dan kota-kota lainnya. Awalnya perjalanan aman-aman saja. Namun saat mendekati Solo, para penumpang yang berada di atap disuruh turun oleh polisi.


“Ternyata mau masuk Solo kami diserang oleh suporter Pasopati. Padahal kami tidak ada persiapan karena sebelum masuk kereta sudah digeledahi sama polisi,” ujar Reza.


Akhirnya prak, prak, prak suara hantaman batu membentur gerbong dan kaca terdengar bersahut-sahutan. “Kurang lebih selama setengah jam kami menerima. Kami hanya tiarap di dalam gerbong tanpa bisa membalas,” ujarnya.


Selepas Solo saat memasuki Sleman, mereka merasa aman karena lemparan batu sudah berhenti.


Tiba di Bandung Jumat malam, suasana relatif tenang. Tidak ada kerusuhan yang dilakukan para Bonek maupun pendukung Persib Bandung yang dikenal Bobotoh.


Usai pertandingan, sebagian Bonek langsung pulang ke Surabaya. Yang membedakan dengan berangkat, kepulangan merela dilakukan secara bergelombang. Kebetulan Reza menumpang Kereta Luar Biasa gelombang pertama yang disediakan khusus bagi para Bonek.


Dia menuturkan untuk yang satu ini, sama dengan saat berangkat. Para Bonek mendapat sambutan berupa lemparan batu di beberapa lokasi. Bahkan saat kereta memasuki wilayah Jawa Timur yang nota bene wilayah mereka pun, warga masih melempari batu.


Menurut Reza, kelompoknya dilempari batu sejak memasuki wilayah Solo, Jawa Tengah. “Bahkan kali ini, serangan itu lebih lama dibandingkan saat berangkat,” kisahnya.


Mereka pun hanya bisa pasrah. Tak hanya itu, sebelum masuk ke dalam kereta, polisi merazia barang bawaan sehingga mereka tidak bisa membalas lemparan batu. “Kami tidak bisa balas hanya bisa tiarap di dalam gerbong,” ujar Reza.


Reza menuturkan dalam gerbong salah satu penumpang yang dikenalnya, Cak Romli mengalami bocor di kepala saat kereta melintas di Solo. “Kami hanya diam saja tidak bisa membantu,” kisahnya.


Sesampainya di Madiun Romli baru mendapatkan perawatan. Dia terpaksa ditinggal dan ikut gelombang berikut yang di belakangnya.

Menurut Pembina Suporter Surabaya (YSS), ada tiga Bonek yang tewas selama perjalanan berangkat dan pulang dari Bandung. Ketiganya bukan tewas karena bentrokan, namun jatuh dari kereta api. Satu di antaranya tewas saat berangkat dan dua lainnya saat pulang. Korban pertama jatuh di daerah Nganjuk, Jawa Timur. Sementara yang lain di daerah Banyumas, Jawa Tengah.

YSS juga mencatat Bonek yang mengalami luka-luka akibat lemparan batu mencapai 64 orang. Para korban luka itu dirawat di RSUD Dr Mawardi Solo, RS Bethesda Yogyakarta, dan RSU dr Soetomo Surabaya.

Tak hanya itu, YSS juga mencatat Bonek yang belum kembali ke rumahnya. Hingga kemarin YSS mencatat 16 orang yang belum jelas nasibnya.

(ton)

Kamis, 30 Desember 2010

iklan

Kartu As Nelpon Rp. 0 + Gratis 5000 SMS + Gratis Facebook & Chatting

Senin, 29 November 2010

SELAMAT DATANG DI BLOG BONEK MANIA PERSEBAYA


SELAMAT DATANG DI BLOG BONEK MANIA PERSEBAYA


PERSEBAYA WALAUPUN KALIAN degradasi JANGAN PANTANG MENYERAH MAJU TERUS PERSEBAYA

bergabunglah grup di facebook :
PERSEBAYA SURABAYA fans club
BONEK MANIA

Selasa, 16 November 2010

Daftar Pemain Persip

Daftar Pemain Persip

oleh DIMAS pada 08 Oktober 2010 jam 23:44

Pemain Laskar Kalong 2010

1.Nama : Nurul Subkhi, TTL : Pekalongan, 8-Jun-1986, Klub asal : Persibat Batang, Posisi : Penjaga Gawang

2.Nama : Sanam, TTL : Bekasi, 19-Mei-1989, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Penjaga Gawang

3.Nama : Sodikin, TTL : Tegal, 19-Jul-1972, Klub asal : Klub asal: Persip Pekalongan, Posisi : Penjaga Gawang

4.Nama : Didi Rochandi, TTL : Pekalongan, 18-Apr-1988, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Belakang

5.Nama : Drajad Hadi Wibowo, TTL : Grobogan, 19-Nop-1988, Klub asal : Persekab Kab. Pekalongan, Posisi : Belakang

6.Nama : Agung Prasetyo, TTL : Semarang, 23-Okt-1988, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Belakang

7.Nama : Wasiyanto, TTL : Bojonegoro, 5-Jul-1975, Klub asal : PSBL Lampung, Posisi : Belakang

8.Nama : Sugiat, TTL : Banyumas, 18-Jun-1981, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Belakang

9.Nama : Yuli Fitra Ariyanto, TTL : Sukoharjo, 8-Feb-1985, Klub asal : PSSA Asahan, Posisi : Belakang

10.Nama : Jadi Wido Dodo Mulyono, TTL : Sukoharjo, 26-Okt-1981, Klub asal : PSSA Asahan, Posisi : Belakang

11.Nama : Muntarno, TTL : Purwodadi, 11-Jul-1986, Klub asal : Persibat Batang, Posisi : Belakang

12.Nama : Sukodir, TTL : Pekalongan, 23-Feb-1981, Klub asal : Bank Sumsel, Posisi : Tengah

13.Nama : Dodik Dwi Haryono, TTL : Semarang, 30-Mar-1986, Klub asal : PSCS Cilacap, Posisi : Tengah

14.Nama : Dwi Priyo Utomo, TTL : Demak, 27-Feb-1978, Klub asal : Perseman Manokwari, Posisi : Tengah

15.Nama : Dodi Fauzi, TTL : Semarang, Klub asal : Diklat Salatiga, Posisi : Tengah

16.Nama : Muslimin, TTL : Pekalongan, 3-Mei-1987, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Tengah

17.Nama : Wahyudi, TTL : Batang, 30-Apr-1988, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Tengah

18.Nama : Mochamad Riyadi, TTL : Pekalongan, 3-Mei-1989, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Tengah

19.Nama : Windi Andriyanto, TTL : Lampung, 27-Okt-1986, Klub asal : Bank Sumsel, Posisi : Tengah

20.Nama : Mukhamat Fatih, TTL : Pekalongan, 28-Sep-1988, Klub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Depan

21.Nama : Nur Coyo, TTL : Pekalongan, 26-Sep-1985, Klub asal : Bank Sumsel, Posisi : Depan

22.Nama : Suroso, TTL : MojokertoKlub asal : Persip Pekalongan, Posisi : Depan

23.Nama : Rozikin, TTL : Batang, 1-Jan-1988, Klub asal : Persip Pekalongan Posisi : Depan

24.Nama : Taryono, TTL : Wonogiri, 7-Mar-1985, Klub asal : PSCS Cilacap Posisi : Depan

Senin, 15 November 2010

Persip Vs Medan Jaya Ricuh

Persip Vs Medan Jaya Ricuh

Laga Persip Pekalongan melawan Madina Medan Jaya dalam putaran kedua Divisi I Grup B di Stadion Bumi Phala, kemarin, berlangsung ricuh. Akibatnya, wasit Masrukin dari Malang dibawa ke rumah sakit lantaran patah tulang iga. Lima kartu merah pun keluar sekaligus bagi pemain Medan Jaya. Pertandingan akhirnya dinyatakan selesai pada menit ke-52 dalam kedudukan 1-0 bagi Persip. Tensi mulai memanas setelah gol Persip tercipta menit 15 melalui tendangan jarak jauh Sukodir. Medan Jaya yang tertinggal satu gol kemudian menerapkan permainan keras menjurus kasar.


Laga sempat dihentikan pada pertengahan babak pertama lantaran kericuhan di tengah lapangan. Seorang pemain Medan Jaya dengan sengaja menendang kaki lawannya yang jatuh tersungkur. Situasi itu memicu keributan antarpemain. Ofisial kedua tim, panpel pertandingan, dan aparat keamanan pun masuk lapangan untuk melerai.


Wasit Masrukin kemudian melanjutkan kembali. Giliran pemain Persip yang dengan sengaja menggaet kaki lawannya setelah bola yang dikuasainya lepas. Kenakalan tersebut memicu kemarahan pemain Medan Jaya. Mereka pun membalas dengan menebas para pemain Persip yang membawa bola.


Adegan mirip pertarungan kungfu itu berulang kali diperagakan para pemain kedua tim. Puncak kericuhan terjadi tujuh menit setelah jeda. Ofisial dan personel Medan Jaya memburu wasit Masrukin lantaran memutuskan terjadinya pelanggaran keras. Keputusan itu rupanya tak diterima kubu dari Sumut tersebut. Aparat berupaya melindungi Masrukin. Malang bagi dia, pemain cadangan Medan Jaya Rico Simanjuntak bisa menendang bagian belakang tubuhnya.


Wasit cadangan Munadi yang menggantikan Masrukin memberikan lima kartu merah sekaligus. Masingmasing diterima Tri Dinda Febriansyah, Aldino Herdianto, Ardan, Rifki Syarial, dan Rico dari Medan Jaya. Hasil akhir pertandingan ini Persip Pekalongan Menang WO dengan skor 4-0.


Selasa, 02 November 2010

PERSIP VS MEDAN JAYA RICUH


Laga Persip Pekalongan melawan Madina Medan Jaya dalam putaran kedua Divisi I Grup B di Stadion Bumi Phala, kemarin, berlangsung ricuh. Akibatnya, wasit Masrukin dari Malang dibawa ke rumah sakit lantaran patah tulang iga. Lima kartu merah pun keluar sekaligus bagi pemain Medan Jaya. Pertandingan akhirnya dinyatakan selesai pada menit ke-52 dalam kedudukan 1-0 bagi Persip. Tensi mulai memanas setelah gol Persip tercipta menit 15 melalui tendangan jarak jauh Sukodir. Medan Jaya yang tertinggal satu gol kemudian menerapkan permainan keras menjurus kasar.


Laga sempat dihentikan pada pertengahan babak pertama lantaran kericuhan di tengah lapangan. Seorang pemain Medan Jaya dengan sengaja menendang kaki lawannya yang jatuh tersungkur. Situasi itu memicu keributan antarpemain. Ofisial kedua tim, panpel pertandingan, dan aparat keamanan pun masuk lapangan untuk melerai.


Wasit Masrukin kemudian melanjutkan kembali. Giliran pemain Persip yang dengan sengaja menggaet kaki lawannya setelah bola yang dikuasainya lepas. Kenakalan tersebut memicu kemarahan pemain Medan Jaya. Mereka pun membalas dengan menebas para pemain Persip yang membawa bola.


Adegan mirip pertarungan kungfu itu berulang kali diperagakan para pemain kedua tim. Puncak kericuhan terjadi tujuh menit setelah jeda. Ofisial dan personel Medan Jaya memburu wasit Masrukin lantaran memutuskan terjadinya pelanggaran keras. Keputusan itu rupanya tak diterima kubu dari Sumut tersebut. Aparat berupaya melindungi Masrukin. Malang bagi dia, pemain cadangan Medan Jaya Rico Simanjuntak bisa menendang bagian belakang tubuhnya.


Wasit cadangan Munadi yang menggantikan Masrukin memberikan lima kartu merah sekaligus. Masingmasing diterima Tri Dinda Febriansyah, Aldino Herdianto, Ardan, Rifki Syarial, dan Rico dari Medan Jaya. Hasil akhir pertandingan ini Persip Pekalongan Menang WO dengan skor 4-0.


T-Forever.